Kamis, 16 Juni 2016

Sebuah Perkenalan Dengan "HIJAB"

Assalamualaikum warohmatullah pembaca, semoga senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Ada secuil kisah dalam hidup yang paling indah dan akan terkenang sepanjang masa, yaitu ketika hidayah Allah mulai menyapa, itulah saat aku merasa hidupku berubah arah serta memiliki tujuan yang jelas.
Hijab, aku sejak kecil tak pernah asing dengan penggunaan hijab. Ya, meskipun lingkungan keluargaku bukanlah keluarga yang religious, Alhamdulillah aku Islam sejak lahir. Sekolah pertamaku adalah TK Islam, dunia awal aku mengenal pemakaian hijab sekitar tahun 2001. Di Indonesia sendiri penggunaan hijab pada saat itu belum sebanyak sekarang. Semua orang seakan “enggan” menggunakan hijab pada saat itu dengan berbagai alasan. Termasuk mamaku, beliau juga belum berhijab namun saat kecil aku melihat beliau melaksanakan shalat. Ya secuil kenangan yang kuingat melewati hari bersama mama, dan mungkin itulah shalat terakhir mama yang pernah kulihat.

Kembali ke topik. Sejak kecil aku mulai dibekali ilmu agama. Sepindahku ke Blitar, mbah kakung menitipkanku pada sebuah TPQ di masjid dekat rumah. Mbah Kakung menginginkan aku untuk tak melupakan mengaji. Sejak saat itulah aku mulai gemar untuk menggali ilmu agama. Pada umumnya seorang anak yang masih usia 7-10 tahunan aku gemar untuk menghafal Juz Amma kala itu. Alhamdulillah, cukup banyak surat yang kuhafalkan. Beberapa kitab pun aku pelajari, namun sejujurnya saat ini aku lupa, apa saja yang diajarkan saat itu. Yang paling kuingat adalah ilmu tajwid.

Dulu ketika aku ingin memasuki SMP, ibuk (sapaan akrabku kepada guru ngaji) menyarankanku untuk berhijab. Lagi-lagi dengan “alasan” belum siap dan ditambah konsep hidup yang payah (bagiku) “lebih baik hati yang dihijabi dahulu” aku mengurungkan niat untuk berhijab ketika SMP. Yah itulah kesalahanku yang cukup menyakitkan ketika baligh. Mengingat bahwa sudah kewajibanku untuk berhijab ketika usia itu. Ya Allah, bagaimana kabar mamaku di alam sana dan beban dosa yang akan ditanggung oleh ayahku saat itu. Hati terasa disayat mengingat saat itu, belum lagi aku adalah pejuang pacaran. Astaghfirulloh.

Aku menginginkan masuk di salah satu SMA favorit di daerahku. Mbah Kakung dulu pernah bilang padaku “kui loh nduk sekolahe cah pinter-pinter. Sok lek Anggri SMA, neng kono ae, cedek omah gek apik pisan sekolahe” (itu loh sekolahannya anak pintar-pintar. Nanti kalau Anggri SMA sekolah disitu saja. Dekat dengan rumah dan bagus sekolahannya) kira-kira seperti itu kata beliau. Dalam hati aku pun berusaha mewujudkan keinginan mbah kakung. Sejujurnya akupun menginginkan sekolah di sana. Tekadku sudah bulat, aku bernadzar ketika diterima di sekolah tersebut aku akan ber”HIJAB”.

Subhanallah, hidayah Allah memang didapat dengan jalan yang istimewa. Alhamdulillah, aku diterima di sekolah tersebut dan mulai mengenakan hijab. Canggung, pasti. Walaupun aku terbiasa menggunakan hijab ketika ngaji saja, di SMA aku menuntut diriku sendiri untuk membiasakan diri berhijab dalam kehidupan sehari-hari. Demi Allah, itu bukanlah perkara yang mudah untuk kulakukan. Di awal-awal aku masih suka melepas hijab, pejuang pacaran, akhlaq morat-marit dan masih banyak sifat buruk lain. Aku mengenakan hijab, namun aku belum memahami hijab. Aku gemar memakai hijab hanya untuk memenuhi nadzar semata, memakai hijab karena ingin lebih “dipandang” dan sifat keduniawian lain.

Menginjak kelas 2 SMA, aku memutuskan untuk tidak pacaran. Aku masih ingat betul saat itu adalah ketika Ramadhan. Kurenungi pada suatu waktu, bermunajat kepada Allah, untuk apa sebenarnya aku hidup. Dan pada saat itu serasa ada cahaya Allah yang mulai menerangi hatiku dan aku mulai belajar memahami arti “hijab”. Seiring berjalannya waktu, semakin kumemahami arti hijab, semakin aku malu dengan hijabku yang tak selaras dengan akhlaqku. Langkah pertama yang kuambil saat itu adalah, memutuskan untuk tidak berpacaran. Ya, langkah yang cukup berat bagiku karena tau sendirilah masa SMA seperti apa.

Bukan berarti setelah aku memutuskan tak berpacaran, aku menjadi seorang yang alim. Tidak. Aku masih menjalin komunikasi dengan lawan jenis. Ya Allah, kalau diingat rasanya sakit, karena dulu aku adalah tipikal baperan. Tapi Alhamdulillah (bukan karena baperan), aku masih memegang prinsipku untuk tidak berpacaran.

Saat ini, aku berusaha untuk berhijab syar’i sesuai aturan agama. Namun aku masih belajar, masih ada celah untuk melakukan kesalahan. Aku masih berboncengan dengan lawan jenis juga, namun akan belajar menguranginya saat ini. InsyaAllah aku ingin memberi makna yang lebih baik atas hijab yang kukenakan. Karena hijab adalah identitasku. Islam itu sempurna, aku tidak. Bila ada kesalahan, itu aku yang melakukan, jangan salahkan hijab yang kukenakan. Sungguh, hijab ini adalah caraku mengatur tingkah lakuku dan hijab ini pun aku belajar untuk bertaqwa kepadaNya dengan cara yang kupilih.

Sekarang, aku masih belajar "ajeg" berpakaian seperti ini


Sebuah doa untuk para muslimah di luar sana, sempurnakan akhlaqmu bersama dengan hijabmu, ingatlah bentuk taqwa kepada Allah itu ada jalannya sendiri, salah satunya berhijab. Semoga kalian yang mulai belajar untuk berhijab senantiasa diberi petunjuk oleh Allah agar senantiasa istiqomah dan juga berada di jalanNya ketika menjalankan perintahNya. Niat baik pasti akan diberi jalan terbaik. Semoga. J

1 komentar:

  1. Cerita yang menginspirasi :)
    Semoga tetap dijaga untuk kian mantab berhijab

    BalasHapus