Assalamualaikum warohmatullah pembaca, semoga senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Ada secuil kisah dalam hidup yang paling indah dan akan terkenang sepanjang masa, yaitu ketika hidayah Allah mulai menyapa, itulah saat aku merasa hidupku berubah arah serta memiliki tujuan yang jelas.
Hijab, aku sejak kecil tak pernah asing
dengan penggunaan hijab. Ya, meskipun lingkungan keluargaku bukanlah keluarga
yang religious, Alhamdulillah aku Islam sejak lahir. Sekolah pertamaku adalah
TK Islam, dunia awal aku mengenal pemakaian hijab sekitar tahun 2001. Di
Indonesia sendiri penggunaan hijab pada saat itu belum sebanyak sekarang. Semua
orang seakan “enggan” menggunakan hijab pada saat itu dengan berbagai alasan.
Termasuk mamaku, beliau juga belum berhijab namun saat kecil aku melihat beliau
melaksanakan shalat. Ya secuil kenangan yang kuingat melewati hari bersama
mama, dan mungkin itulah shalat terakhir mama yang pernah kulihat.
Kembali ke topik. Sejak kecil aku mulai
dibekali ilmu agama. Sepindahku ke Blitar, mbah kakung menitipkanku pada sebuah
TPQ di masjid dekat rumah. Mbah Kakung menginginkan aku untuk tak melupakan
mengaji. Sejak saat itulah aku mulai gemar untuk menggali ilmu agama. Pada
umumnya seorang anak yang masih usia 7-10 tahunan aku gemar untuk menghafal Juz
Amma kala itu. Alhamdulillah, cukup banyak surat yang kuhafalkan. Beberapa
kitab pun aku pelajari, namun sejujurnya saat ini aku lupa, apa saja yang
diajarkan saat itu. Yang paling kuingat adalah ilmu tajwid.
Dulu ketika aku ingin memasuki SMP,
ibuk (sapaan akrabku kepada guru ngaji) menyarankanku untuk berhijab. Lagi-lagi
dengan “alasan” belum siap dan ditambah konsep hidup yang payah (bagiku) “lebih
baik hati yang dihijabi dahulu” aku mengurungkan niat untuk berhijab ketika
SMP. Yah itulah kesalahanku yang cukup menyakitkan ketika baligh. Mengingat
bahwa sudah kewajibanku untuk berhijab ketika usia itu. Ya Allah, bagaimana
kabar mamaku di alam sana dan beban dosa yang akan ditanggung oleh ayahku saat
itu. Hati terasa disayat mengingat saat itu, belum lagi aku adalah pejuang
pacaran. Astaghfirulloh.
Aku menginginkan masuk di salah satu
SMA favorit di daerahku. Mbah Kakung dulu pernah bilang padaku “kui loh nduk
sekolahe cah pinter-pinter. Sok lek Anggri SMA, neng kono ae, cedek omah gek
apik pisan sekolahe” (itu loh sekolahannya anak pintar-pintar. Nanti kalau
Anggri SMA sekolah disitu saja. Dekat dengan rumah dan bagus sekolahannya)
kira-kira seperti itu kata beliau. Dalam hati aku pun berusaha mewujudkan
keinginan mbah kakung. Sejujurnya akupun menginginkan sekolah di sana. Tekadku
sudah bulat, aku bernadzar ketika diterima di sekolah tersebut aku akan
ber”HIJAB”.
Subhanallah,
hidayah Allah memang didapat dengan jalan yang istimewa. Alhamdulillah, aku
diterima di sekolah tersebut dan mulai mengenakan hijab. Canggung, pasti.
Walaupun aku terbiasa menggunakan hijab ketika ngaji saja, di SMA aku menuntut
diriku sendiri untuk membiasakan diri berhijab dalam kehidupan sehari-hari.
Demi Allah, itu bukanlah perkara yang mudah untuk kulakukan. Di awal-awal aku
masih suka melepas hijab, pejuang pacaran, akhlaq morat-marit dan masih banyak
sifat buruk lain. Aku mengenakan hijab, namun aku belum memahami hijab. Aku
gemar memakai hijab hanya untuk memenuhi nadzar semata, memakai hijab karena
ingin lebih “dipandang” dan sifat keduniawian lain.
Menginjak
kelas 2 SMA, aku memutuskan untuk tidak pacaran. Aku masih ingat betul saat itu
adalah ketika Ramadhan. Kurenungi pada suatu waktu, bermunajat kepada Allah,
untuk apa sebenarnya aku hidup. Dan pada saat itu serasa ada cahaya Allah yang
mulai menerangi hatiku dan aku mulai belajar memahami arti “hijab”. Seiring
berjalannya waktu, semakin kumemahami arti hijab, semakin aku malu dengan
hijabku yang tak selaras dengan akhlaqku. Langkah pertama yang kuambil saat itu
adalah, memutuskan untuk tidak berpacaran. Ya, langkah yang cukup berat bagiku
karena tau sendirilah masa SMA seperti apa.
Bukan
berarti setelah aku memutuskan tak berpacaran, aku menjadi seorang yang alim.
Tidak. Aku masih menjalin komunikasi dengan lawan jenis. Ya Allah, kalau
diingat rasanya sakit, karena dulu aku adalah tipikal baperan. Tapi
Alhamdulillah (bukan karena baperan), aku masih memegang prinsipku untuk tidak
berpacaran.
Saat
ini, aku berusaha untuk berhijab syar’i sesuai aturan agama. Namun aku masih
belajar, masih ada celah untuk melakukan kesalahan. Aku masih berboncengan
dengan lawan jenis juga, namun akan belajar menguranginya saat ini. InsyaAllah
aku ingin memberi makna yang lebih baik atas hijab yang kukenakan. Karena hijab
adalah identitasku. Islam itu sempurna, aku tidak. Bila ada kesalahan, itu aku
yang melakukan, jangan salahkan hijab yang kukenakan. Sungguh, hijab ini adalah
caraku mengatur tingkah lakuku dan hijab ini pun aku belajar untuk bertaqwa kepadaNya
dengan cara yang kupilih.
![]() |
| Sekarang, aku masih belajar "ajeg" berpakaian seperti ini |
Sebuah
doa untuk para muslimah di luar sana, sempurnakan akhlaqmu bersama dengan
hijabmu, ingatlah bentuk taqwa kepada Allah itu ada jalannya sendiri, salah
satunya berhijab. Semoga kalian yang mulai belajar untuk berhijab senantiasa
diberi petunjuk oleh Allah agar senantiasa istiqomah dan juga berada di
jalanNya ketika menjalankan perintahNya. Niat baik pasti akan diberi jalan
terbaik. Semoga. J


